Showing posts with label #Indonesia. Show all posts
Showing posts with label #Indonesia. Show all posts

Friday, 13 April 2018

Format dan Kriteria Kalimat efektif


Berbagi Ilmu -- Format dan Kriteria Kalimat Efektif 


Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan maupun tanda bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Kalimat efektif merupakan salah satu ciri - ciri penggunaan bahasa yang baik . Kalimat efektif sangatlah penting apabila kita membuat sebuah karya tulis baik itu bersifat ilmiah maupun bersifat kebahasaan . Nahh tau kah kalian bagaimana sih format kalimat efektif ? lalu apa saja sih kriteria kalimat efektif itu ? 
Nahh langsung saja kita lihat penjelasannya di bawah ini :

Format Kalimat Efektif 

Bagaimana sih format yang kita gunakan sehingga kalimat yang kita tuliskan atau kita tuliskan termasuk ke dalam kalimat efektif ? Berikut ini format kalimat efektif yang benar :

1. Singkat
 
Yang di maksud singkat disini adalah , kalimat yang kita gunakan haruslah tidak terlalu panjang atau bertele - tele dan hanya mengandung indeks indeks atau unsur yang dibutuhkan saja.

2. Padat

Salah satu format dari kalimat efektif adalah Padat , artinya adalah di dalam kalimat yang singkat dan tidak bertele - tele tersebut , haruslah tetap megandung sebuah informasi , dan tidak mengandung perulangan di dalam kalimat tersebut.

3. Jelas

Kalimat efektif haruslah jelas yaitu mengandung kejelasan struktur kalimat , baik itu S- P - O - K nya haruslah jelas dan dapat di bedakan .

4. Lengkap

Artinya adalah kalimat efektif haruslah mengandung sebuah kelengkapan struktur kalimat gramatikal.


Kriteria Kalimat Efektif

Apa saja sih yang membuat sebuah kalimat tergolong sebagai kalimat efektif ? , yuks kita lihat kriteria kriterianya di bawah ini :

1. Kesatuan Gagasan

Kesatuan atau kepaduan yang di maksud disini adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu , sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah - pecah atau ambigu . Ada beberapa hal yang perlu kita perhatika apabila kita ingin menciptakan kepaduan kalimat , yaitu :

  • kalimat padu tidak bertele - tele dan tidak mencerminkan cara berfikir yang simetris
  • kalimat padu menggunakan pola aspek + agen + verbal
  • kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek yang di tuju.
2. Koherensi

Koherensi adalah Suatu kalimat efektif haruslah memenuhi unsur gramatikal S , P , O , K . dan kalimat efektif haruslah mencerminkan sebuah kepaduan antara hubungan hubungan unsur gramatikal tersebut seperti contohnya hubungan S-P / P-O / dan hubungan yang lainnya .

Contoh : 

Hubungan S-P 

Itu adalah buku ( salah ) ===> Itu buku (benar)

Mengapa itu adalah buku salah ? karena hubungan antara Subjek dan Objek di kalimat tersebut adalah sangat dekat , sehingga tidak memerlukan lagi kalimat penghubung . Nahh dicontoh kalimat tersebut adalah bukan merupakan kalimat definisi sehingga tidak di perlukan di tambahkan kata adalah .

Hubungan P-O 

Hubungan antara predikat disini dapat kita ambil contoh dari kalimat transitif dan intransitif , seperti yang kita ketahui bahwa kalimat transitif adalah kalimat yang tidak membutuhkan sebuah objek . karena tidak membutuhkan sebuah objek apabila ingin di tambahkan objek di belakang predikat oleh karena itu di tambahkan kata hubung .

Contoh :

Tindakannya berbahaya bagi dirinya sendiri (Contoh kalimat transitif)

Tindakannya membahayakan dirinya sendiri (Contoh kalimat intransitif)


3. Penekanan

Penekanan disini berarti adalah kalimat efektif menonjolkan unsur unsur yang dipentingkan di dalam kalimat tersebut.

Cara melakukan penekanan ini terdapat beberapa cara , antara lain :

  • Repetisi , pengulangan hal yang di pentingkan .
  • Menggunakan pertentangan (mempertentangkan) sehingga kalimat yang merupakan unsur penting dapat di tonjolkan
  • Menggunakan partikel -lah , -kah , -tah , -pun 
  • Menggunakan urutan atau (pola) dimana kalimat yang pertama kali di tulis adalah unsur / hal yang dipentingkan .

4. Variasi

Variasi disini adalah kalimat efektif menggunakan keanekaragaman bahasa , variasi dalam kalimat dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut :

  • variasi panjang dan pendek kalimat
  • variasi dengan mengubah posisi kalimat
  • variasi dengan penggunaan me- dan di-
  • variasi panjang pendek kalimat
  • variasi sinonim kata

5. Paralelisme (Keparalelan)

adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu . Artinya bila dalam suatu kalimat menggunakan nomina berarti seterusnya nomina.

Contoh :

Harga minyak dibekukan atau dinaikan secara luwes.

6. Penalaran

adalah bahwa ide kalimat tersebut dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku . Hubungan yang unsur kalimat harus memiliki hubungan yang logis dan masuk akal.



Terimakasih sudah membaca artikel ini semoga teman teman paham dengan Format dan Kriteria Kalimat Efektif , yang saya jelaskan di atas . Jangan lupa baca juga artikel artikel menarik lainnya .  


Wednesday, 8 November 2017

Lirik dan Makna lagu Indonesia Pusaka

Indonesia

Lirik dan Makna lagu Indonesia Pusaka


(1)Indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
tempat akhir menutup mata

(2) Sungguh indah tanah air beta
tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
bagi bangsa yang memujanya
Indonesia ibu pertiwi
kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
kepadamu rela kuberi

Begitulah contoh syair dari indonesia pusaka , nahh dari lirik tersebut terselip makna yang sangat dalam , yaitu :

Makna atau arti Lagu Indonesia Pusaka Bait Pertama:


Makna dari lagu indonesia pusaka ciptaan ismail marzuki adalah pada bait pertama Ismail Marzuki memberi tahu bahwa indonesia merupakan senjata yang selalu hidup didunia, Maksudnya indonesia merupakan negara yang kuat dan akan terus jaya untuk selamanya. Tidak hanya waktu masa perjuangan melawan penjajahan namun hingga kemerdekaan dan hingga sekarang dan masa depan.

Makna atau arti Lagu Indonesia Pusaka Bait Kedua:


Pada bait selanjutnya bermaknakan bahwa dari dulu sampai saat ini indonesia merupakan negara yang selalu di puja dan diagungkan oleh bangsa indonesia, sebagai pijakan akan kelahiran semangat kemerdekaan. bait ini menceritakan bahwa diindonesia lah kita lahir dan berkembang, bahkan sampai akhir hayat pun kita akan tetap berada di negara yang tercinta ini negara indonesia.


Makna atau arti Lagu Indonesia Pusaka Bait Ketiga:


Pada lagu Indonesia Pusaka Karya Ismail Marzuki  bait ini bermaknakan bahwa negara indonesia merupakan negara yang indah,banyak ditumbuhi pepohonan dan juga dikelilingi oleh lautan luas sehingga tidak ada satupun negara yang dapat menandingi negara indonesia. Betapa Indahnya alam Indonesia dari wilayah lain yang selalu subur dan kaya akan anekaragam hewani dan hayati.


Makna atau arti Lagu Indonesia Pusaka Bait Terakhir:


Lagu ini mengartikan tuhan sengaja menciptakan negara indonesia yang sangat indah dan sempurna untuk para bangsa indonesia yang selalu taat kepada tuhan yang maha esa. Karena Indonesia merupakan beraneka ragam suku bangsa dan Budaya, suku bangsa dan bahasa.



Thursday, 2 November 2017

Contoh Cerpen (Cerita Pendek)

CONTOH CERPEN (CERITA PENDEK)

Haii Bertemu lagi dengan admin ... bagaimana kabar semua sehat ??? hahaha pastinya dong admin doakan juga para pembaca blog ini di beri kesehatan dan kelancaran rezeki .. Aamiin . Loh kok malah tiba tiba jadi kajian ? gapapa lah ya sekali kali ... hehe .

Nah kali ini mimin akan membahas tentang cerpen , yups cerita pendek . Memang cerita yang satu ini banyak di sukai oleh semua golongan baik tua maupun muda . Ya karena sifat dari cerita ini yg ringkas , mudah dinikmati , dan tidak membikin jenuh karena pendek .

Ehmm .. oke kali ini mimin akan memberikan kalian contoh salah satu cerpen yang pernah mimin baca di internet yaitu judulnya botol .

Haaa ???
Botol ?
kok botol sih ?
Penasaran ???

Langsung saja kita baca ceritanya berikut ini :

Botol

Botol
Hamparan permadani biru tak terlihat sebagaimana mestinya. Pagi, sinar yang menembusnya malu-malu bersandar pada hari yang akan sama seperti belakangan ini. Yang semakin tak ubahnya ia membungkus bumi kota ini. Anginnya yang menusuk tulang, merengkuh. Detik yang sama menyokong tubuh seorang gadis cilik dan terduduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Hai pemulung, hebat sekali kau masih bisa sekolah, darimana kamu dapat uang, merampok ya?” tertawa sebagian teman-temannya.

Air matanya seakan tak bisa kompromi untuk keluar dari pusat mengalir menuju titik terbawah. Ingin sekali ia membalasnya dengan sebuah tinjuan keras bak pendekar menekuk semua musuh-musuhnya. Hati yang sabar membasuh kemarahan dan kekesalan dalam diri. Ia menjawab dengan tegas dan hati-hati.
“Aku memang orang miskin, tidak punya apa-apa, tapi ingat, suatu saat nanti aku akan membuktikan kalau aku bisa sukses dengan uang hasil kerja kerasku selama ini, sedangkan kalian, apa tidak malu masih saja mengandalkan orangtua!”
“Wah, nyalimu besar juga berani berkata begitu. Baiklah, aku akan melihat sejauh mana kesanggupan dari orang pinggiran. Kalau kau tidak berhasil, bersiaplah dengan serbuan kata-kata pahit akan menghujani dirimu.”

“Sebentar lagi minumannya habis.” gadis berkaus lusuh itu membatin. Matanya tak sedikitpun berpaling dari pemuda berjaket denim yang memegang botol Aqua. Isinya tinggal separuh. Gadis itu menggosok-gosokkan kedua kakinya yang sedari tadi menginjak tanah basah alun-alun kota Yogyakarta. Sandal bukanlah hal yang ia pikirkan. Hanya dingin, namun itu sudah biasa pula baginya. Pikiran itu hanya hinggap sejenak sebelum musnah dari benaknya.
Sebenarnya ia ingin segera pulang, tapi tanggung. Karungnya tidak penuh malam ini, padahal karung penuh saja cuma dihargai tiga ribu rupiah. Mau tak mau ia harus mendapatkan botol bekas itu, meskipun hanya satu. Seandainya saat itu malam Minggu, ia bisa mengumpulkan tiga kali lipat lebih banyak. Sayang malam Minggu hanya ada tujuh hari sekali. Gadis itu menghela napas, ekor matanya kembali mencuri pandang.

Isinya tinggal setengah.
Si gadis menguap. Kantuk sedari tadi menderanya. Ia mati-matian membelalakkan mata. Ia tak tahu sekarang jam berapa, mungkin lebih malam dari yang disangkanya. Jam 11? Jam 12? Ah, mana kenal ia dengan waktu. Satu-satunya penunjuk waktu di rumahnya adalah arloji murahan kesayangan bosnya, hasil nemu bulan lalu, yang selalu ia bawa kemana-mana. Jangan harap ia bisa meminjam benda tersebut, kecuali kalau memang ingin diludahi oleh bosnya.
Kalau ia tidur, meskipun cuma tidur-tidur sebentar, ia takut hasil pulungannya diambil orang. Di dunia yang penuh kecurangan ini, pemulung pun harus menyesuaikan diri. Ikut-ikutan curang. Adu mulut dengan pemulung lain sudah menjadi santapan sehari-harinya. Kadang malah dia yang mengambil hasil pulungan orang lain.

Kosongnya jalanan membuat ia sadar kalau saat itu memang sudah larut malam.
Ya, dua anak manusia duduk di pinggir alun-alun Yogyakarta yang merupakan pusat kota ini. Dua-duanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing, meskipun menyadari kehadiran satu sama lain. Dua-duanya tampak tak ingin beranjak dari tempat itu. Dua-duanya saling menunggu.
Detik demi detik, menit demi menit habis dalam lamunan semata. Sampai akhirnya si pemuda menyerah. Ia melemparkan botol plastik yang masih terisi setengah itu, lalu berbaring beralaskan lantai dingin, berselimut langit hitam.

Gadis itu, dengan senyum lega dan gembira di wajah, memanggul karung di sampingnya, kemudian berlari mengambil botol bekas yang dilemparkan si pemuda. Ia melangkah pulang, meninggalkan pemuda berjaket denim yang diam-diam mengawasi punggungnya di bawah sinar bulan.
Pemuda itu, bernama Rangga. Usianya baru enam belas tahun dan terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang sangat berada. Ia bosan dengan kehidupannya dari pagi hingga malam, dari tertidur hingga terbangun kembali, tak ada yang menarik baginya. Kehidupannya hanya itu dan itu saja, terlalu monoton.
Ia lupa. Ia lupa kalau tugas di sekolah untuk mewawancarai seseorang yang dianggap pahlawan, belum dikerjakannya. “Mana tugas dikumpul besok lagi.” desahnya, ia benar-benar lupa. Entah mendapat panggilan darimana, ia memutuskan untuk keluar rumah. Motor vixionnya ia pacukan dengan kecepatan sedang. Ia sangat menikmati malam ini, dingin, aroma tanah bekas hujan masih tercium baunya, amat segar.
Saat melewati Alun-Alun Kota Jogja, ia memutuskan untuk membeli semangkuk bakso. Setelah makan, ia duduk di pinggiran alun-alun. Alun-Alun sudah sepi, mungkin karena hari itu hari Rabu, bukan malam Minggu atau Minggu. Ia hanya mendapati beberapa penjual bakso di sana, itu pun sudah beres-beres.

Ia melamun. Ia melamun, siapakah yang akan ia wawancarai malam-malam begini, sendirian.
Tidak benar-benar sendirian.
Ia mendapati seorang gadis berbaju lusuh duduk agak jauh darinya. Di samping gadis itu tergeletak sebuah karung tipis berisi gelas bekas. Pasti pemulung.
Apa rasanya jadi pemulung? Tiba-tiba pertanyaan itu melintas di benak Rangga. Kenapa gadis itu belum pulang? Apa saja yang dikerjakannya seharian? Siapa orangtuanya? Apa pekerjaan mereka? Diam-diam ia memandangi gadis itu. Dilihatnya gadis itu menguap. Kenapa ia belum pulang ke rumah?

Rangga berdecak, melemparkan gelas minumannya sembarangan, lalu berbaring sambil melihat bintang-bintang. Dari sudut mata ia melihat gadis pemulung itu berlari mengejar botol bekasnya, lalu memasukkannya ke karung yang dipanggulnya. Rangga mengernyit, berfikir. Ternyata, bocah itu menunggunya! Kenapa ia tidak bilang kalau mau memulung gelas itu? Kan ia bisa memberikannya dari tadi.

Gadis aneh, pikirnya dalam hati seraya memandangi kepergian anak itu. Begitu berartikah sebuah botol bekas? Sebuah saja tidak akan ada harganya, kan?
Pemuda itu mengendikkan bahu, tak ada salahnya ia memanggil gadis tersebut.

“Adik!”

Terdengar suara. Pemulung cilik itu mendongak. Pemuda itu memanggilnya. Dengan heran ia mendekat. Pemuda itu memberikan sedotan dan sebotol Aqua. Masih penuh.
“Minumlah, kamu pasti haus. Botolnya untuk kamu.”
“Tidak usah, Mas…” ia menolak, enggan.
“Ayolah, kakak ikhlas kok.”
Ragu-ragu, Nilam mengambilnya.
“Makasih, Mas.”
“Sudah malam Dik, kok belum balik ke rumah?”
“Belum Mas, masih mau nyari botol.”
Pemuda itu manggut-manggut.
“Nama kamu siapa? Nama kakak Rangga.”
“Nilam.”
Setelah itu mengalirlah percakapan antara keduanya.
“Kamu kok bisa memulung, apa motivasi kamu?” tanya pemuda itu penasaran.
“Untuk hidup dan sekolah, mas.”
“Kok kamu milih mulung, enggak yang lain aja?”
“Karena, pemulung itu,” ia mengambil nafas, mengeluarkannya, “sesuatu pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.”
“Kamu nggak malu sama temen kamu?”
Gadis itu berusaha tersenyum, “Kenapa harus malu Mas? Itu pekerjaan halal kok, mulia.” sembari meminum air aqua dari pemuda ia melanjutkan, “Pemulung sangat berjasa bagi semua orang. Pemulung mampu mengorbankan waktu dan tenaganya hanya untuk memungut sampah, botol-botol yang sudah tidak dianggap lagi oleh siempunya. Padahal, jika plastik-plastik dibiarkan begitu saja bisa mengakibatkan polusi dan kerugian yang sangat besar.” ia tersenyum, puas menceritakan pekerjaannya kepada pemuda di depannya. “Yaah, walaupun hasilnya sangat tidak seberapa.” ia menambahkan.
Rangga berfikir, gadis ini terlalu pintar utnuk dikatakan sebagai pemulung.
“Nah, kan tadi kamu bilang kalau pemulung itu berjasa buat orang lain. Lalu siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Adik ini? Mungkin orangtua atau keluarga Adik gitu?” desakku.
Ia, pemulung yang aku ‘wawancarai’ ini, sempat memandangku lama.
“Aku ndak punya keluarga, Mas. Ditemuin orang sini aja. Dirawat giliran, terus diajarin mulung gini.” celetuknya.
“Nggak cuma aku, lihat tuh mereka,” dia menunjuk beberapa awak menggendong karung di Jalan Trikora, “Nasibnya yo podo wae sama aku. Dari kecil diajarin mulung, terus setor. Setoran kurang, ya ndak makan. Nek tanya siapa yang berjasa buat aku yo… sopo. Hidup ya cuma cari sampah. Enaknya dimana hehehe.”
Aku terdiam. Hening. Dia kembali melihat botol yang ada di dalam karung. Dia memandangi botol aqua yang aku lempar tadi. Sembari menatap langit tampak menerawang, “Mungkin, nek buatku, yang paling berjasa ya kalian yang buang sampah. Apalagi botolan.” celetuknya.
Aku nggak salah dengar?
“Kenapa Dik?” tanyaku, mulai penasaran.
“Nek ndak ada yang buang sampah, aku ndak dapat setoran. Nek ndak dapat setoran ya ndak makan. Ndak makan ya mati hehe. Jadi makasih lho Mas, aku jadi bisa makan buat bertahan.”




Thursday, 17 August 2017

Contoh Teks Eksplanasi

Contoh Teks Eksplanasi

Halooo kembali bersama admin lagi nih , kali ini kita akan membahas tentang contoh teks eksplanasi sebelumnya apakah itu teks eksplanasi ? Apakah Ciri ciri nya ? dan seperti apa contoh nya akan kita bahas disini jadi stay tune terus bersama berbagi ilmu yaa.

Pengertian Teks Eksplanasi


Dari asal katanya saja kita sudah dapat mengetahui arti dari teks eksplanasi tersebut , Eksplanasi berarti menjelaskan atau menerangkan sesuatu . Sehingga Teks Eksplanasi adalah sebuah teks yang berisi tentang penjelasan proses-proses yang berhubungan dengan fenomena alam, sosial, ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan bahasan bahasan lainnya.

Struktur Teks Eksplanasi 


  1. Pernyataan Umum, Berisi tentang penjelasan umum tentang peristiwa yang akan dibahas, biasanya berisi pengenalan dari peristiwa tersebut atau penjelasannya.
  2. Hubungan Sebab Akibat, Berisi tentang penjelasan proses "mengapa" peristiwa tersebut bisa terjadi atau tercipta (Sebab sebab peristiwa tersebut dapat terjadi) dan bisa terdiri lebih dari satu paragraf. Dan juga berisi akibat yang diakibatkan dari peristiwa tersebut.
  3. Interpretasi (Opsional), Teks penutup yang bersifat opsional berarti boleh ada atau tidak dalam sebuah teks eksplanasi. Biasanya berisi kesimpulan dari peristiwa tersebut dan berisi tanggapan atau kritik terhadap perisstiwa tersebut.

Contoh Teks Eksplanasi :


Berikut kami sediakan beberapa contoh teks eksplanasi agar kita semua dapat memahami seperti apakah teks eksplanasi tersebut .

Contoh 1 :



Gempa Bumi


Pernyataan Umum :

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi karena pergerakan lapisan batu bumi yang berasal dari dasar atau bawah permukaan bumi. Peristiwa alamitu sering terjadi di daerah yang berada dekat dengan gunung berapi dan juga di daerah yang dikelilingi lautan luas.

Hubungan Sebab Akibat :

Gempa bumi terjadi karena pergeseran lapisan bawah bumi dan letusan gunung yang dahsyat. Selain itu,  gempa bumi terjadi begitu cepat dengan dampak yang begitu hebat. Oleh karena itu, akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa. Getaran gempa bumi sangat kuat dan merambat ke segala arah sehingga dapat menghancurkan bangunan dan menimbulkan korban jiwa.

Berdasarkan penyebab terjadinya, gempa bumi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik. Gempa tektonik tejadi karena lapisan kerak bumi menjadi genting atau lunak sehingga mengalami pergerakan. Teori“Tektonik Plate” berisi penjelasan bahwa bumi kita ini terdiri atas beberapa lapisan batuan. Sebagian besar daerah lapisan kerak ini akan hanyut dan mengapung di lapisan, seperti halnya salju. Lapisan ini bergerak sangat perlahan sehingga terpecah-pecah dan bertabrakan  satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya mengapa gempa bumi terjadi. Sementara itu, gempa bumi vulkanik terjadi karena adanya letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Gempa vulkanik ini lebih jarang terjadi jika dibandingkan dengan gempa tektonik.

Gempa dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal musim. Meskipun demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi di tempat-tempat tertentu saja, seperti pada batas Plat Pasifik. Tempat ini dikenal dengan lingkaran api karena banyaknya gunung berapi


Contoh 2 :

Hujan Asam



Pernyataan Umum :

Hujan asam adalah suatu masalah lingkungan yang serius yang harus benar-benar difikirkan oleh umat manusia. Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan turunnya asam dari atmosfir ke bumi. Sebenarnya turunnya asam dari atmosfir ke bumi bukan hanya dalam kondisi “basah” Tetapi juga “kering”. Sehingga dikenal pula dengan istilah deposisi (penurunan/pengendapan) basah dan deposisi kering (Laras, 2006). Bhatfi et.al (1992) mengemukakan bahwa hujan asam dapat terjadi ketika ada reaksi antara air, oksigen dan zat-zat asam lainnya di atmosfer. Sinar matahari akan mempercepat terjadinya reaksi antar zat-zat tersebut.

Hubungan Sebab akibat :

Deposisi basah mengacu pada hujan asam,kabut dan salju. Ketika hujan asam ini  mengenai tanah, ia dapat berdampak buruk bagi tumbuhan dan hewan,tergantung dari konsentrasi asamnya,kandungan kimia tanah,buffering capacity (kemampuan air atau tanah  untuk menahan perubahan pH ), dan jenis tumbuhan/hewan yang terkena. Deposisi kering mengacu pada gas dan partikel yang mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di atmosfir jatuh kembali ke bumi melalui deposisi kering. Kemudian angin membawa gas dan partikel asam tersebut mengenai bangunan, mobil, rumah dan pohon (Laras, 2006).

Ketika hujan turun ,partikel asam yang menempel di bangunan atau pohon tersebut akan terbilas, menghasilkan air permukaan (runoff) yang asam. Angin dapat membawa material asam pada deposisi kering dan basah melintasi batas kota dan Negara sampai ratusan kilometer. Untuk mengukur keasaman hujan asam  igunakan pH meter. Hujan dikatakan hujan asam jika telah memiliki pH dibawah 5,0 ( Air murni mempunyai pH 7 ). Makin rendah pH air hujan tersebut , makin berat dampaknya bagi mahluk hidup.

Hujan asam merupakan salah satu dampak dari pencemaran udara yang mempengaruhi kegiatan ekonomi, social dan politik (Nam et.al, 2001). Kejadian hujan asam yang sering terjadi beberapa decade ini menjadi isu yang cukup penting untuk dibahas. Pemahaman akan femonena hujan asam diharapkan mampu menggugah perhatian masyarakat tentang upaya-upaya untuk menghadapinya serta mengetahui cara-cara untuk menanggulanginya.Hubungan antara emisi kimia ke atmosfer dengan dampak yang ditimbulkan akibat hujan asam sangat kompleks baik dari segi lingkungan ekosistem, kesehatan manusia maupun pada benda-benda (Landsberg, 1995).